Wednesday, 10 October 2012

Nostalgia di Bukit Cinta

              Pagi yang cerah di Negri Beton, negri di mana selama ini ku sandarkan semua kebutuhan hidupku dan keluarga ku hingga bisa hidup layak seperti yang lainnya.
Saat ini musim panas telah berlalu, dan musim dingin mulai mengulurkan tangannya untuk menyambut semilir angin sepoi-sepoi, hingga hembusan angin dingin menusuk ke kulit tubuh dan akhirnya tembus sampai ke tulang sum-sum.
               Tak hanya ku mengais rezeki di Negri yang telah membesarkan nama idola ku di film laga, Jackey Chan, tetapi aku dan teman-teman seprofesiku pun berkecimpung di dunia baru kami. Dunia di mana kami harus mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan fikiran setelah seharian penuh di kuras dengan tugas turin sebagai seorang pramuwisma. kami melawan tumpukan buku-buku pelajaran yang harus kami baca, pelajari, dan kami hafalkan.
                Setiap hari libur tiba, kami harus bangun lebih awal karena pelajaran di sekolah yang kami ikuti di pagi hari. Kami bersenda gurau melewati jalan-jalan berbukit, mendaki anak-anak tangga yang selalu memamerkan kemegahannya, hingga berjumlah lebih dari tiga puluh tangga membuat nafas kami terengah-engah. Kadang kami harus berhenti mendaki ketika sampai di tengah-tengah anak tangga.
                 "Mba, cepat dikit jalannya, nanti kita ketelat lho!" Semua mata tertuju pada sumber suara tersebut.
                "Heh..heh..., aku nggak kuat nanjak lagi, Mia," pinta salah satu siswa yang meratap kepada temanku bernama Mia. Akhirnya, mereka pun berhenti sejenak untuk sekedar mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang mulai terkuras.
                 Sekolah kami terletak di atas bukit yang terletak di distrik Shueng Wan, Hong Kong. untuk bisa mencapai ke sekolah kami, sekolah setara dengan SMA atau akrab dengan sebutan "kejar paket C", untuk menembus jalan berbukit dengan banyaknya anak tangga dan jalan berlapis aspal menanjak hingga mencapai jarak tempuh kira-kira 300 M dari anak tangga terakhir yang harus di lewati.
                 Bila musim panas tiba, tubuh kami pun bermandikan keringat untuk bisa menembus jalan berbukit di kota Shueng Wan hingga sampai ke sekolahan tersebut. Namun, bila musim dingin tiba, tubuh kami teras lebih hangat saat berjalan menempuh sekolah Bukit Cinta itu.
                 Tampak di depan kelas berdiri tegak seorang pria muda, berusia sekitar tiga puluhan sedang megajar mahasiswi-mahasiswinya. Di kelas lantai dasar yang sebenarnya adalah aula berukuran sangat luas, dan tidak cocok di sebut kelas. Alternatif ini di pilih oleh pria muda itu yang biasa di panggil Pak Dosen untuk mengantisipasi lonjakan siswa baru yang setiap bulannya bertambah banyak. Sehingga bila siswa di tampung di ruang kelas maka akan berdesak-desakkan. Karena kapasitas kelas tidak sesuai denga jumlah siswanya.
                 Puluhan siswa kejar paket C itu telah berdiri rapi layaknya pasukan berani mati yang sedang menunggu komandan pimpinan dan mendengarkan instruksi berikutnya untuk di laksakan oleh para prajuritnya itu. Tepat di sebelah kiri dari tempat duduk mahasiswi-mahasiswi jurusan management bisnis itu, mereka berdiri dengan hati di taburi harap-harap cemas untuk membuka amplop berisi hasil ujian dua bulan yang lalu setelah ujian Nasional di laksanakan.
                 "Ah, kamu. Yang sabar ya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga dan fikiran saya, namun saya tidak bisa berbuat banyak untuk kamu. yang rajin lagi belajarnya,ya." Pak Dosen menasehati salah satu siswanya.
                  Seperti itulah Pak Dosen bila sedang menasehati para siswanya, karuan saja yang di nasehati seperti dengan tidak di sadari akan membuat air matanya menganak sungai. melihat korbannya terpedaya, Pak Dosen pun berbisik dalam hati,"Ah, gitu aja masa' nangis sih! apa mereka kagak tahu sebenarnya saya hanya bercanda." Lalu Pak Dosen memberikan amplop putih itu kepada siswa yang nangis tadi. Sambil menangis si siswa membuka isi amplop dengan tangan gemetaran.
                  Pelan namun pasti amploppun terbuka dan terpampang jelas tulisan-tulisa di balik amplop tersebut. Dengan merasa tidak percaya dengan penglihatannya, siswa itu pun mengulangi lagi bacaan dari dalam amplop tersebut. "Selamat, anda telah sukses". Yang sebelumnya berlingan air mata kesedihan kini berubah menjadi linangan air mata kebahagiaan, Pak Dosen pun turut memberikan ucapan selamat. Walau sebelumnya sempat ngerjain si siswa tersebut.
                  Barisan mengular yang jumlahnya puluhan siswa tadi, dengan tertib menunggu panggilan dari Pak Dosen. Sambil mengajar mahasiswanya, Pak Dosen membagi-bagikan amplop hasil kelulusan itu kepada murid-muridnya. Dan tibalah saatnya kini giliran Mia untuk di panggil maju menghadap Pak Dosen. Pak Dosen yang biasanya mengajar mereka dengan penuh kesabaran serta lagaknya yang sangat lucu, sempat membuat siswa-siswanya enggan meninggalkan kelas. Namun di hari itu dari pagi sampai sore, karakter yang biasa melekat pada Pak Dosen itu, kini tiba-tiba berubah 97%, seperti malaikat maut yang siap setiap saat mencabut nyawa-nyawa manusia.
                  Begitu pila dengan Mia, dia pun harap-harap cemas menunggu kelulusan lewat lembar  kertas kecil dalam amplop itu.
"Selamat, ya Mia. Moga makin rajin aja belajarnya," Pak Dosen menasihati Mia sambil memberi
amplop ke Mia. Perasaan Mia pun tak karu-karuan, tak sabar lagi untuk membuktikan kata-kata dari Pak Dosen.
                 Bagai di sambar halilintar , tubuh Mia lemas lunglai tak berdaya. Di rasakan tubuhnya tak bertulang lagi. Keputusan itu, hasil ujian itu, membuatnya bersedu sedan tak sanggup untuk membaca lanjutannya."Maaf, anda belum berhasil." rupanya kalimat ini yang membuat Mia menangis. Teman-teman sekolahnya saling menghibur satu sama lain, dan mereka menangis masal. Karena lebih dari 60 siswa yang ikut ujian hanya 25% siswa saja yang lulus.
                 Sempat pula terdengar heboh di dunia maya, tentang kelulusan itu. Banyak siswa tidak percaya dengan hasil ujian itu. sempat pula terdengar olehku, mereka menyalahkan "DEPNAKER", dan di jawab oleh siswa yang lainnya. "Bukan DEPNAKER tapi DIKNAS", dan bahkan ada yang menyalahkan komputer di Jakarta terutama di DIKNAS, katanya pada eror, serta ada pula yang menyalahkan "Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)". Teman-temanku sekelas itu menyalahkan mereka karena alasannya soal semudah di ujian itu kok sampai nggak lulus semua. Dan karena kurang puas dengan pihak yang di salahkan, maka mereka setuju untuk menyalahkan Pak Dosen. Dengan alasan, selama ini mengajar kok siswanya yang lulus cuma beberapa belas pasang. Dan pelajarannya yang di ajarkan nggak keluar semua.
                 Tiba-tiba ponselku bergetar, ternyata Ani yang menelponku. dia juga sekelas denganku. "Mba Dwi, sudah ambil hasil kelulusan lom, sudah sore lho, nanti sekolahannya tutup. Tadi Pak Dosen bilang, katanya mba Dwi nggak lulus. Makanya cepetan kesana? pintanya padaku.
                  "Belum tuh, thanks infonya, An. Masa' sih aku nggak lulus! Ok, deh aku segera ke Bukit kamu sendiri lulus apa nggak,An?" Ku balik bertanya ke Ani.
                  "Heheee...,aku nggak lulus, mba. Tadi Pak Dosen bilang langsung ke aku, dia minta maaf karena dulu pernah bilang kalau aku nggak lulus ujian, eh! Kok beneran nggak lulus. Tapi aku bilang ke dia, kalau itu bukan salahnya, itu salahku sendiri karena dulu waktu ujian aku nggak belajar malah facebook-an.Heheheeee...." Celotehnya padaku.
                  Tanpa buang waktu lagi aku segera menuju ke MTR (mass transit railway) Causeway Bay, kebetulan saat Ani telpon tadi aku berada di taman Victoria Park atau di kenal dengan sebutan "Kampung Jawa". karena di taman itu tempat nongkrongnya BMI (buruh migran Indonesia alias TKW).
                   Ku telusuri jalan menuju ke Bukit Cinta, ku berjalan setengah berlari. Aku benar-benar "Keder" di buatnya, batinku berkata, ah, yang bener aja aku nggak lulus. Dulu Pak Dosen yang bilang katanya aku "Siswa Teladan" tapi setelah ujian kok katanya pula aku nggak lulus. batinku bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Pak Dosen? Apa Pak Dosen salah minum obat, hingga aku yang di cap siswa teladan sampai menjadi nggak lulus ujian.
                  Anak tangga menuju bukit yang tingginya tidak menurut kemauanku, akhirnya ku sampai di puncaknya, lalu menyeberang menuju jalan ke bukit beraspal. Rumah-rumah megah berjejer di kiri kanan jalan, kendaraan yang berlalu lalang menghibur hatiku yang sedang di rundung kejengkelan pada Pak Dosen. Tak kurasakan lagi letihnya berjalan menuju bukit, yang ada hanya secepatnya melihat hasil ujian itu.
                  Ku langkahkan kaki ku memasuki ruang belajar mahasiswa manajemen itu di lantai dasar. lembaga Pendidikan itu sebenarnya berkolaborsi dengan universitas asal Philipina, Pak Dosen itu yang menjadi dosen di situ sekaligus mengajar kami siswa-siswa paket C juga adik kelas paket B. Lumayan capek banget Pak Dosen waktu itu, karena hanya dia satu-satunya guru dan dosen yang ngajar BMI di lembaga itu .
                   Aku berjalan mendekati Pak Dosen yang sedang asyik mengajar siswanya. Aku pun duduk di bangku panjang terletak tepat di depan para siswa dan di samping kanan white board. Sambil menunggu Pak Dosen selesai mengajar, ku amati gambar-gambar yang menempel di tembok itu.
                  Anganku melayang pada saat pertama kali memasuki ruang kelas yang sekarang di gunakan oleh mahasiswa dari Philipina dan sekaligus di jadikan sebagai kantor sekretariatnya. pertama kali masuk sekolah hatiku terasa tak percaya bahwa Allah masih mengizinkan aku mengejar ilmu sambil bekerja. Padahal anak-anakku sudah duduk di bangku kuliah, tapi semangatku sekeras dinding beton hingga tak mudah untuk di tumbangkan. Waktu itu di ruang kelas yang hanya cukup menampung 70 orang, di paksa menampung lebih dari 100 siswa, kadang Pak Dosen mengalah tidak duduk.
                 Hingga akhirnya para siswa di pindahkan di sekolah Bukit Cinta. Entah siapa yang menamai sekolah itu Bukit Cinta. Padahal itukan sekolahannya pemerintah Hong Kong, lembaga pendidikan Indonesia dan Philipina itu sebenarnya hanya menyewa per jam dan per minggu. Ah, aku nggak mau banyak berfikir tentang asal muasal nama Bukit Cinta itu.
                  Dwi, dah lama menunggu, ya? sapa Pak Dosen padaku. Namun waktu itu aku tak mendengar sapaannya.
                  Dwi..Dwi...,dah lama menunggu, ya? Pak Dosen mengulangi lagi ucapannya. Aku pun kaget di buatnya.
                  "Eh, iya pak." Jawabku gugup, karena malu tak mendengar sapanya.
                  "Yach...ngalamun lagi..! Yang sabar,ya. Jangan nangis, saya sudah berusaha sekuat tenaga, namun saya nggak bisa berbuat apa-apa. Jangan nangis ya." Pak Dosen menasihati ku.
                  "Ah, untuk apa saya nangis,pak? Kalau nggak lulus ya ngulang lagi." jawabku semakin ngeyel. Pak Dosen ternyata tak sampai di situ memperdayaku agar aku bisa nangis seperti yang lainnya. Dia terus mengucapkan kata-kata itu, aku pun sedikit emosi.
                   "Kan saya udah bilang kalau nggak lulus bisa ngulang lagi, mana pak hasil ujiannya?" Rengekku penuh memelas padanya.
                    Dengan rasa kasihan, akhirnya Pak Dosen memberikan hasil ujian berupa amplop terdapat kertas kecil lengkap dengan nilainya. Sempat berdebar kencang jantungku, segala puji bagi Allah, surat-surat Al-Quran yang pernah ku hafal, doa-doa mulia, semua telah ku keluarkan untuk membunuh rasa takut melihat nilai itu. ku baca pula bismilah 21x tanpa bernafas, agar setan-setan jahat lari terbirit-birit melihat angka-angka itu. Setelah ritual khusus selesai ku baca, amplop pun ku buka dengan sangat puelan sekali, ku picingkan mata kiriku seperti penembak yang akan meluncurkan anak pelurunya.
                    "Aaaahhhh...! Alhamdulilah, Allah huakbar!!!" Teriak ku seperti tak ingat orang di sekitarnya. Para siswa yang masih tinggal di kelas itu tampak kaget bercampur bingung.
                     "Ada apa, mba? Tanya seorang mahasiswa yang sudah ku kenal sebelumnya.
                     "eh, nggak apa-apa. Alhamdulilah aku lulus." aku berlari mendekati Pak Dosen, aku tertawa-tawa riang sambil teriak-teriak kaya orang kesurupan.
                     "Trima kasih, pak. Saya lulus dan nilainya nggak mengecewakan." Pak Dosen hanya tertawa melihat tingkah lakuku.
                      Setelah jam menunjuk ke angka 6 atau jam enam sore, akhirnya kami meninggalka bukit itu. Pak Dosen, aku, dan siswa-siswa yang lainnya berjalan menuruni jalan berbukit. Anehnya di Hong Kong di atas bukit pun bisa di buat jalan raya, lautpun di uruk di jadikan bangunan pencakar langit. Dan kami berpencar setelah menuruni anak tangga terendah, Pak Dosen dan beberapa siswa yang membantu membawakan peralatan sekolahnya berjalan ke arah kanan. Sedang aku dan siswa-siswa yang lainnya menyeberangi jalan di depan Mc. Donald Sheung Wan menuju ke MTR exit A.
                   Jerih payahku selama ini ternyata berbuah hasil yang patut ku syukuri, selama mengikuti paket C, waktu seolah-olah sangat cepat. Karena selain bekerja di rumah majikan, aku harus pandai-pandai mencuri waktu, bahkan terang-terangan untuk belajar di depan majikanku. Mereka pun menghargai kegigihanku dalam belajar.
                   "Bukit Cinta, kini ku telah selesai mendaki puncakmu untuk menuntut ilmu. Terimakasih atas kebaikkanmu pada kami domestic helper yang haus akan ilmu, dan semoga ilmu ini bermanfaat di kemudian hari. Amin."

(Siswati Dwi Murti/Nara sumber: Jeng Mirae, BMI Hong Kong)
                                     

                 
                
               
               

No comments:

Post a Comment