Monday, 1 October 2012

Di Balik Deritaku, Ku Petik Hikmahnya

Seorang anak manusia yamg lahir ke dunia tanpa di dampingi dan suara adzan dari sang ayah tercinta, di usia yang belum genap sembilan bulan, si bayi kecil mungil ini harus berpisah dengan sang bundanya tercinta. Sebut saja namanya Dara.

Tak seorang pun yang menginginkan kebahagiaan masa kanak-kanak di renggut dengan kesedihan karena situasi dan keadaan. Sejak dalam kandungan sang bundanya, Dara sudah di tinggalkan ayahnya mengais rezeki ke Negri Jiran. Karena sang ayah merasa tertekan hidup serumah dengan sang mertua, tak ada jalan lain bagi si ayah untuk meninggalkan ibunya di kampung kelahiran.

Sebenarnya, keluarga ayah Dara tergolong orang berada di kampungnya. Namun, semua itu harta milik orang tuanya. Karena usia Dara di rasa sudah cukup untuk bisa di tinggalkan, maka sang ibu pun menitipkan Dara kepada neneknya, dan ibu dara bekerja di restoran bibinya yang sudah lama tinggal di Malaysia.

Suatu hari teman ayah dara membeli makanan di restoran tersebut, mata kepala teman si ayah tersebut terbelalak karena melihat ada wanita cantik bekerja di rumah makan itu, yang sebelumnya wanita itu memang tidak ada di situ. Tanpa ragu lagi, teman ayah Dara memberitahukan kepada ayah Dara.

Begitu pula dengan saudara si ayah yang saat itu juga sedang bekerja di Malaysia, si paman dari ayahnya inipun memberitahukan perihal yang sama tentang keberadaan si wanita cantik yang sedang bekerja di restoran seberang rumahnya itu. Lain teman si ayah, lain pula dengan si paman ayah. Bila si teman ayah benar-benar tidak tahu siapa sebenarnya wanita terssebut, namun tidak bagi si paman ayah ini. Paman si ayah Dara ini tahu siapa sebenarnya wanita itu, namun dengan berlagak pilon si paman pura-pura tidak tahu menahu tentang identitas wanita itu.

Terang saja permaian ini membuat ayah Dara semakin di hantui dengan rasa penasaran yang memenuhi benak pikirannya sepanjang peredaran matahari terbit dan tenggelam.
Akhirnya, si ayah inipun memberanikan diri seperti biasa membeli makanan di restoran tersebut. Benar saja, ternyata peristiwa yang selama ini mendebarkan dada kini menuai aksinya.

Bukan kepalang kagetnya hati dua insan yang berlainan jenis ini saat masing-masing mata bertatap tanpa instrumen musik pun yang mengirinya. Dan ternyata mereka berdua sudah saling kenal, dan bahkan sudah tahu masing-masing karakter saat di kampung halamannya dulu di daerah Makasar.

pertemuan tidak sengaja itu membuat dua sejoli ini tumbuh lagi benih-benih kasih dari dalam hati, setelah beberapa tahun tidak berjumpa. Rembuk di rembuk akhirnya pihak keluarga di Malaysia merestuinya untuk membangun nikah lagi karena dalam hukum Islam bila sudah lebih dari enam bulan suami tidak memberi nafkah lahir dan batin maka, bila ingin hidup bersama lagi harus membangun nikah. Setelah di rasa acara sakral itu telah mencukupi syarat agama, maka mereka pun  hidup bersama lagi membangun mahligai seperti dulu lagi.

Jauh di Negri Nusantara tepatnya di daerah Makasar, hiduplah bocah kecil tanpa belai kasih sayang dari orang tuanya. Dan bocah itupun tidak tahu bahwa ayah dan ibunya telah bersatu lagi.

Waktu pun bergulir begitu cepat, Dara kini telah menginjakkan kakinya di sekolah dasar (SD). nenek dan kakeknya pun menyusul  orang tuanya ke Malaysia karena permintaan ibunya, Dara pun di titipkan di rumah saudara ayahnya (paman). Dengan berat hati Dara mengamini permintaan nenek-kakeknya. Namun, sekolah Dara berpindah-pindah dari SD di kampung ibunya dan pindah ke kampung ayahnya. Dara, si bocah kecil itu pun tak bisa menolak nasibnya.

Penderitaan Dara tak sampai di situ, di rumah pamannya Dara pun harus bekerja layaknya seorang pembantu. semua pekerjaan rumah Dara yang merampungkannya, mencari rumput untuk makan sapi pun harus Dara lakukan, walaupun anak-anak pamannya berjumlah lima orang dan seusia Dara.

Ketika Dara menginjak kelas empat SD, Dara masih tinggal bersama dengan pamannya, saudara-saudaranya bercerita kepada Dara bahwa ayahnya dari Malaysia akan datang.
Hati Dara di penuhi rasa penasaran yang menjadi-jadi, dia
mendengar cerita dari saudara-saudaranya, bahwa ayahnya tampan dan ibunya cantik dan sempat pula ibunya di nobatkan sebagai 'Kembang Desa' di kampung kelahirannya.

Selang beberapa bulan dari berita itu, nenek dan kakek Dara kembali lagi ke kampung halamannya. Mendengar itu hati Dara tambah berbunga-bunga bagai mekarnya bunga di musim penghujan, lantaran hanya dua orang inilah yang selalu menyayangi Dara selama ini.

Akhirnya, dua orang manula ini pun berhasrat mengambil Dara dari rumah keluarga ayah Dara. Dan selang beberapa bulan cerita yang pernah Dara dengar dari saudaranya menjadi kenyaan di depan mata, dan apa yang di katakan oleh saudaranya memang benar adanya.
Ayah Dara memang seorang laki-laki tampan dengan postur tubuh layaknya atlit nasional.

Ayah Dara meminta kepada dua orang manula itu, untuk membawa anaknya ke Negri Jiran berkumpul bersama keluarganya. Dan Dara telah mempunyai empat saudara kandung. Ayah Dara ingin agar Dara melanjutkan sekolah di Malaysia. Betapa senang dan bahagia perasaan Dara saat itu.

Harapan ingin bersatu dan hidup bersama dengan keluarga di Malaysia, ternyata tak seindah yang ia bayangkan. Pasalnya, Pihak pemerintah Malaysia tidak menerima Dara untuk sekolah di Negri Jiran itu dengan alasan kurikulum pendidikan di Indonesia dan di Malaysia tidak sama. Dara pun hanya pasrah dengan keadaan, dan enggan melanjutkan sekolah lagi di Indonesia.

Tak hanya sampai disitu penderitaan yang di alami oleh Dara, ibu yang melahirkannya ternyata memberi lebih perhatian kepada adik-adik Dara ketimbang dengan Dara. selalu merasa tidak enak hati dan dia merasa tersingkirkan, walau ibunya tak memberi jatah makan sama rata dengan adik-adiknya, Dara selalu diam.

Empat tahun kemudian, Dara menjadi seorang gadis remaja yang cantik, dia juga membantu keluarga mencari nafkah dengan bekerja di rumah makan saudaranya di Malaysia.
Tak terasa Dara telah berkenalan dengan bujang Malaysia dan akhirnya bertemu penghulu di pelaminan.

Dara kini usianya menginjak 16 tahun, dan di usia belia ini pula dia telah membuka lembaran hidup baru dengan suami tercinta. Tuhan pun menganugerahi Dara calon seorang bocah mungil yang masih tinggal di perut Dara. Menginjak usia sembilan bulan kandungannya, Dara mengutarakan hasratnya kepada suaminya untuk melahirkan dan hidup di Indonesia. Namun, suami Daratidak mengabulkan permintaan Dara.

Hubungan cinta kasih Dara dan suaminya hanya sampai di situ, dengan pendirian masing-masing akhirnya Dara memutus untuk membesarkan anaknya di Indonesia, sementara suaminya bersikeras tinggal bersama keluarganya di Malaysia.

Sembilan bulan berlalu, kini Dara hidup bersama lagi dengan nenek dan kakeknya di tambah lagi satu penghuni  mungil berusia 9 bulan. Dara merasa tanggung jawabnya semakin berat, mencari nafkah di negeri sendiri pun rasanya tak cukup untuk hidup yang lebih mapan lagi.
Pikir di pikir Dara pun memutuskan niat untuk mengais rezeki ke Arab Saudi.

Empat tahun Dara mengais rezeki di negri orang, Dara mulai merasakan layaknya hidup dan kehidupan. Setiap bulan mengirim hasil jerih payahnya untuk anak dan keluarga di Tanah Air, barang berharga pun bisa ia beli. Dara pun sempat umrah di negri kelahiran Rosulullah tersebut.

Setelah Dara memutuskan untuk kembali lagi berkumpul dengan keluarga di Tanah Air, maka Dara pun mengakhiri masa kontraknya dengan sang majikan.

Hasil jerih payahnya selama empat tahun pun ia relakan untuk menghajikan neneknya yang selama ini merawat Dara dan cucunya dengan penuh ikhlas dan kasih sayang.
Tak sampai satu tahun, tinggal di rumah, Dara sudah merasa tidak betah, jiwa petualang Dara tumbuh kembali. Tak menunggu lama lagi Dara pun mengurungkan niatnya untuk mengais rezeki ke Negri Beton.

Hingga kini sekitar tujuh tahun bekerja di Negri Beton, Dara telah menghasilkan sesuatu untuk di investasikan di kemudian hari di Indonesia, anaknya pun sudah menginjakkan kakinya di bangku SMA. Hubungan silaturahmi pun masih terjalin baik dengan ibu dan adik-adiknya di Malaysia, namun sayang kebahagiaan yang Dara rasakan saat ini tak bisa di raskan oleh ayahnya tercintaa. Ayah Dara telah berpulang ke rahmatullah ketika Dara membesarkan anaknya di Tanah Air.

Note: Di balik penderitaan hidup kita pasti ada rencana lain yang telah Allah tulis jauh sebelum kita lahir, dan Allah tidak akan mengubah nasib seseorang bila orang itu tidak mau merubahnya. Semua kita kembalikan urusan dunia dan akhirat hanya kepada Allah semata. Dan semoga kisah hidup Dara ini bisa kita jadikan peringatan kepada kita sebagai orang tua agar tidak membeda-bedakan anatara anak yang satu dengan yang lainnya.

(Siswati Dwi Murti/sumber: Salah satu BMI Hong Kong)





No comments:

Post a Comment