Sekitar tujuh tahun saya bekerja di Negri Beton, bermacam-macam pula kegiatan yang pernah saya geluti selamanya ini. Diantaranya kegiatan rutin di forum lingkar pena (FLP).
Pada kesempatan lain saya mendapat informasi dari salah satu volunteer reporter Dompet Dhuafa Hong Kong yang sebelumnya kami sudah saling kenal, tentang "Seminar Pelatihan Komunikasi" dengan trainer seorang yang sudah sangat ahli dalam bidang yang satu ini. Dan saya sangat terkesan dengan acara yang di selenggarakan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong ini.
Trainer yang satu ini memang bukan orang sembarangan, sempat saya bingun mendengar penjelasasn dari teman saya yang reporter DDHK News tersebut, pasalnya, dia menjelaskan bahwa nama trainernya biasa di sebut Romli lalu saya minta penjelasan lagi darinya bahwa memang nama trainernya tidak salah namanya Romli. Tapi, teman saya bilang lagi bukan Romli, tapi Romel.
Dalam hati saya tak perduli dengan nama itu, baik Romel ataupun Romli bagi saya tidak berpengaruh, yang penting dan yang paling utama adalah ilmunya. Apalagi, biaya training sangat murah, hanya seharga dua pulsa rekanan besar. Sempat saya berfikir, yang jadi trainer pak Romli apa pak Romel ya? walau batin saya tidak perduli, tapi rasa penasaran itu berkecamuk juga di lubuk hati. Atau mungkin bila pak Romli tidak bisa hadir lalu di gantikan oleh pak Romel? Perang batin sempat menghantuiku.
Rasa perasaran itu akhirnya menuai hasil, ternyata trainer yang di maksud oleh teman saya yang reporter itu nama lengkapnya, Asep Syamsul M. Romli atau biasa di panggil Kang Romel.
Coba kalau dari awal teman saya itu mengatakan bahwa nama lengkapnya itu dan nama Romel itu nama panggilan, kan saya tidak usah pakai perang batin segala. Ah, maklum saja minat dan niat saya sudah bulat untuk ikut pelatihan komunikasi tersebut, sehingga bawaannya serba gugup dan takut bila di suruh maju untuk pidato.
Di minggu pertama pelatihan, saya tidak bisa hadir di karenakan majikan dan anak-anaknya loihan (tour) ke Singapura dan Korea.
pelatihan di minggu pertama membahas tentang kejurnalistikan, kebetulan saya sudah satu tahun menekuni bidang yang satu ini. Jadi, walaupun tidak hadir saya masih bisa melihat di modul.
Dan alhamdulilah ternyata di minggu berikutnya yaitu minggu kedua, Kang Romel mengulasnya lagi. Sepertinya memang tak jauh beda dengan materi yang pernah saya dapat dari teman saya wartawan Tasik Malaya waktu itu.
Rasa penasaran tentang trainer itu, tak hanya sekedar namanya saja yang membuat saya kalang kabut, ternyata gelar dan keberadaannya di dunia literasi serta kiprahnya selama ini membuat saya jadi tidak bisa tidur. Karena, dulu teman saya bilang bahwa Kang Romel itu seorang dosen dan bla.. bla..bla.. sampai saya tak ingat lagi apa yang di utarakan oleh teman saya itu. teman saya bilang, kalau sampai tidak mengikuti traning ini maka akan rugi besar. Pasalnya, ini adalah kesempatan emas dan tak akan terulang lagi untuk kedua kali dalam waktu yang sama, serta bila pelatihan ini di adakan di Indonesia, maka biayanya sangat mahal dan hampir mencapai angka Rp 3 juta.
Menginjak di minggu ke dua saya bisa menghadiri acara tersebut, kalau tidak salah tentang blog. Saat itu saya masih juga belum punya laptop, dan selama satu tahun saya mengirim berita ke Tanah Air hanya melalui HP, namun perasaan bahagia menyelimuti hati saya lantaran tulisan saya bisa di muat di media cetak di Indonesia. Dalam mempelajari blog pun saya masih bingung karena memang tidak ada laptop, dan saya minta di ajari membuat blog lewat teman dekat saya yang kebetulan ikut gabung di FLP dan pelatihan komunikasi itu.
Di pelatihan blog yang di laksanakan di Masjid Ammar Wan Chai di lantai 6, di ikuti sekitar tujuh puluh peserta. sebelum Kang Romel memberi pelatihan tentang blog, teman dekat saya memberitahukan bahwa trainernya sangat lucu tak tersaingi, bahkan membuat perut teman saya kaku dan sakit. Saya pun melihat sendiri, memang trainernya seperti itu.
Beliau adalah seorang trainer, konsultan media, reporter, penyiar radio, dosen.Namun demikian, tak membuat kang Romel sombong atau pun sok pinter, padahal dia juga seorang insiyur di bidang politik hukum. Dia juga bukan wartawan biasa, dia selalu bertugas di luar negri, yang tentu saja bahasa Inggrisnya sangat mahir, tapi tetap saja bahasanya rendah hati.
Dalam menulis di blog membuat integritas buruh migran Indonesia (BMI) semakin naik tinggi, bukan hanya mereka yang sekolah tinggi yang bisa buat blog.Bberkat bimbingannya dalam pelatihan komunikasi yang di selenggarakan oleh Dompet Dhuafa Hong Kong, meliputi jurnalistik, humas, blogger, public speaking, BMI jadi lebih faham dengan media literasi.
Pada minggu ketiga dan minggu keempat, pelatihan berlangsung di lantai satu di Masjid Ammar, Wan Chai. Karena di lantai enam telah terpakai. Dan pelatihan tersebut membahas humas dan public speaking. Para peserta di latih berbicara di depan teman-temannya, baik belajar MC ataupun dalam berpresentasi. walaupun agak malu-malu dan takut, namun para peserta patut di acungi jempol.
Pada acara pelatihan terakhir, pihak penyelenggara DDHK mengapresiasikan tulisan-tulisan para BMI yang telah di kirim ke email atau inboxnya Kang Romel dengan hadiah-hadiah yang sangat menarik. Para peserta di hari Saptu, tiga orang di tentukan sebagai pemenang. Dan pada hari Minggu di tentukan tujuh orang pemenang.
Saya pribadi sangat bersyukur dan bahagia sekali bisa mengikuti acara pelatihan tersebut, dan sangat berterima kasih dengan DDHK, Kang Romel, dan teman saya reporter DDHK, lutfiana, yang mana telah memberikan waktu emas kepada saya hingga saya bisa mengikuti semua materi, serta mendapatkan sertifikat resmi. Bila nanti saya pulang ke Tanah Air, saya tidak akan minder lagi bila bertugas di daerah saya sebagai jurnalistik, karena ilmu yang mahal ini telah saya kantongi. Dan rencananya insyaallah memang ingin mengabdikan diri untuk rakyat kecil dengan tulisan, dan sekarang sudah berlanjut mengirim tulisan-tulisan di media cetak.
Semoga ilmu yang bermanfaat ini bisa saya tularkan ke orang lain dengan ikhlas karena Allah semata, dan memberi keberkahan kepada sesama umat. Amin.
(Siswati Dwi Murti)
No comments:
Post a Comment